API CINTA ITU ADA HANYA SAAT BELUM MEMILIKINYA


Memiliki seseorang ternyata tidak seindah zaman gue belum memilikinya. Zaman di mana karakternya masih dibatasi imajinasi gue aja. Zaman di mana dia belum menunjukkan sisi-sisi gelapnya. Zaman di mana gue nggak dipaksa untuk makan-makanan yang dia baru coba masak, hingga membuat gue 3 hari berak-berak. Gue nggak boleh protes, karena gue nggak boleh mengecewakannya, karena membuat dia selalu bahagia adalah kewajiban. Ah!!

Belum lagi sifat posesif dia yang ternyata berbahaya. Di mana, gue ngobrol sama temen sekelas yang cewek aja bisa membuat dia ngambek dan diemin gue seminggu lamanya. Di mana gue harus membiarkan dia mengobok-obok inbox SMS hape gue buat memastikan bahwa gue nggak ngedeketin cewek lain.

Gue nggak bisa protes, karena gue cinta. Meskipun gue capek, dan mulai nyadar bahwa cinta yang sudah menjadi kewajiban itu ternyata menyebalkan. Gue harus menerima dia apa adanya. Gue harus selalu berusaha membahagiakan dia. Gue harus bisa menjadi seperti yang dia minta, meski gue nggak nyaman menjalaninya. Melelahkan juga.

Gue coba buka-buka lagi puisi, lagu, lukisan, yang pernah gue buat untuk dia saat gue patah hati olehnya dulu. Di titik itu, gue nyadar. Api asmara itu justru ada di saat kita tidak saling memiliki. Di saat kita hanya melihat indahnya si dia. Di saat kita bisa dengan tulus memaklumi segala kekurangannya. Cinta sejati itu tumbuh dari rasa sakit. Iya, orang yang bisa benar-benar menyakiti kita, cuma orang yang benar-benar kita cinta. Mungkin elo bakal santai aja, kalo lo dicuekin oleh orang yang nggak lo suka. Tapi lo bisa galau berbulan-bulan saat lo dicuekin gebetan, kan?

Dan akhirnya, gue dikalahkan oleh rasa bosan. Bosan terhadap segala kekurangan dia, bosan untuk selalu memakluminya. Iya, waktu itu gue emang belum dewasa dalam mencinta. Akhirnya, kami pun sepakat untuk memutuskan hubungan cinta. Anehnya, beberapa saat setelah kami berpisah, gue kembali bergairah. Rasa cinta kembali tumbuh, rasa rindu kembali menggebu. Gue kembali pengin memperjuangkan cinta si dia. Maunya hati ini apa sih? Kampret, kan?

Mau diterima atau tidak, begitulah pilihan yang diberikan oleh cinta. Selalu mencintai orang yang tak pernah bisa kita miliki, atau Memiliki orang yang tak kita cintai. Tapi yang jelas, cinta itu adalah yang mampu memberimu energi dan gairah. Cinta itu yang bisa membuatmu selalu gelisah. Cinta itu yang bisa menggerakkan hatimu hingga kamu bisa melakukan hal-hal yang sebelumnya berat untuk dilakukan. Dan saat kamu tak lagi bergairah, tak bersemangat, dan tak tulus lagi berkorban untuk dia, itu adalah tanda bahwa cinta sudah tak bersemayam di sana.

" Hubungan, baik itu pacaran maupun pernikahan, bukanlah keputusan yang bisa diambil dalam keputusasaan. "

* by Alitt Susanto*

RINDU YANG MENGGEBU

" Jadi bagaimana?
Melimpahkan semua kesalahan lantas akulah bagian paling bersalah?

Jikalau saja dibilang sibuk, kita sama-sama sibuk.
Jikalau dibilang punya banyak teman, kamu mungkin lebih.

Terkadang iri, iri ketika aku bahkan tidak bisa mengatakan tidak ketikapun kamu bertanya.
Karena apa?
Iya, karena aku tidak tega.

Berat beban?
Iya, mungkin bebanmu lebih berat.
Tidaklah kamu tahu, terkadang akupun tidak mampu memikul beban yang mungkin bagimu tidak terlalu berat.
Beliau, sangat sibuk, teman, sahabat, semua sibuk dengan kesibukannya dan mulai tak peduli.

Lari ke arahmu?
Kamu sedang sibuk mendalami rasa amarahmu... "

Jeritan Hati terjadi ketika rasa rindu begitu menggebu dan semua rasa bercampur begitu saja. Larut, larut dalam emosi dan merasa paling diasingkan.